Kamis, 29 Maret 2012

PANDUAN PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN KUMBANG Paederus sp.

Sesuai dengan surat edaran Dirjen PP dan PL tentang Upaya Pencegahan dan Pengendalian Kumbang Paederus sp. Tentunya harus dipublikasi kepada publik bagaimana cara yang harus dilakukan untuk pencegahannya. Uraian di bawah ini diammbil dari Leaflet.

PENDAHULUAN
Baru-baru  ini  dilaporkan  kasus  dermatitis irritans di  Surabaya  (2012) akibat  kumbang Paederus sp. (awam mengenal dengan istilah “Tomcat”).
 
BIOEKOLOGI Paederus sp.

Klasifikasi taksonomi Paederus sp. sebagai berikut :
Phylum : Arthropoda 
Kelas    : Hexapoda 
Ordo     : Coleoptera (kumbang) 
Famili   : Staphylinidae 
Genus   : Paederus 
Spesies : Paederus literrarius, Paederus  Fuscipes

Kumbang  ini  dikenal  dengan  nama  semut  semai, semut  kayap  (rove  beatle),  kumbang  jelajah  dan nama  lainnya  disetiap  wilayah  di Indonesia  memiliki nama tersendiri.

Umum  ditemukan  diseluruh  dunia,  khususnya daerah tropis. Kumbang ini sesungguhnya tergolong serangga  berguna  karena  berperan  sebagai predator aktif  pada  beberapa serangga  pengganggu  tanaman padi, seperti wereng batangcoklat, wereng punggung putih, wereng zigzag, wereng hijau dan hama kedelai.

MORPHOLOGI Paederus sp.
  1. Berukuran  panjang  antara  7-10  mm  dan  lebar antara 0,5 sampai 1 mm.
  2. Tubuh  berbentuk  memanjang,  terbagi  menjadi tiga  bagian  kepala,  toraks,  dan  3  ruas  abdomen.
  3. Badan berwarna dasar coklat muda. 
  4. Kakinya  terdiri  atas  tiga  pasang  dan  tidak berkuku. 
  5. Bersayap  tidak  sempurna  dan  berwarna  gelap, terdiri  dari  dua  pasang,  tetapi  tidak  menutupi seluruh abdomen. Sayap depan mengeras disebut elitera,  dan  berfungsi  sebagai  perisai,  sedangkan sayap  yang  kedua  membranus  atau  bening digunakan untuk terbang (bila kondisi tertentu). 
  6. Bila  terancam  akan  menaikkan  bagian  perut (abdomen)  sehingga  nampak  seperti kalajengking.
  7. Berkaki panjang, tipe serangga pejalan cepat.

HABITAT DAN PERILAKU Paederus sp.
  • Berkembang  biak  di  habitat yang  lembab  seperti daun busuk basah dan tanah. 
  • Daur  hidup  dari  telur - imago  selama  18  hari. Stadium telur = 4 hari, larva = 9,2 hari, prepupa =  1 hari, dan  pupa  =  3,8  hari.  Lama  hidup serangga  betina  adalah  113,8  hari  dan  serangga jantan adalah 109,2 hari. 
  • Kemampuan bertelur 106 butir per betina. Masa inkubasi telur selama 4 hari. 
  • Populasi  kumbang  meningkat  pesat  pada  akhir bulan  musim  hujan  (bulan  Maret  dan  April)  dan kemudian  dengan  cepat  berkurang  dengan timbulnya  cuaca  kering  pada  bulan-bulan berikutnya dan bersifat nokturnal 

LAPORAN  KEJADIAN  DERMATITIS AKIBAT KUMBANG Paederus sp. 
Tahun 2004
Kejadian Luar Biasa (KLB) penderita gatal-gatal akibat serangga Paederus sp.  di Tulungagung, penderita 260 orang, dan di Kecamatan Besuki penderita 60 orang.

Tahun 2008
Kota Gresik terjadi di Rumah Susun dengan ± 50 orang.

Tahun 2009 dan 2010
Kejadian di Kenjeran Surabaya dengan penderita 20 orang.

Tahun 2011
Rusunawa di Bekasi melaporkan ada 45 kasus. 

Tahun 2012 terjadi pada :
Dinkes Prov. Jatim (22 Maret 2012): kasus telah terjadi di 12 Kabupaten/Kota penderita 610 orang, Mataram-NTB, Umbulharjo-DIY, BekasiTimur, Tangerang Selatan, Palu-Sulteng, Garut-Jabar.

BAGAIMANA  KUMBANG  INI  BISA BERPERAN  SEBAGAI HAMA  BAGI MANUSIA?
  • Kumbang  dewasa  berpindah  dari  habitatnya dengan berjalan di permukaan tanah atau melalui tajuk tanaman. 
  • Pada malam hari ia tertarik pada lampu pijar dan neon, dan sebagai akibatnya, secara tidak sengaja bersentuhan dengan kehidupan manusia. 
  • Kumbang  ini  tidak  menggigit  atau  menyengat, tapi  secara  tidak  disengaja  tersapu  atau  tergaruk tangan  sehingga  bagian  tubuhnya  hancur  di  atas kulit.  Ketika  itu  ia  akan  mengeluarkan  cairan hemolimfe, yang  berisi  pederin  (C25H45O9N), zat  kimia  iritan  kuat,  yang  akan  menimbulkan reaksi  gatal-gatal,   rasa  terbakar,  eritema  dan mengalir keluar 12-48 jam kemudian. 
  • Keberadaan  bakteri  endosymbiotic  gram  negatif tertentu  pada  betina  (+)  tampaknya  berperan penting untuk sintesis pederin. DNA dari bakteri simbiotik  tergolong  dalam  genus  Pseudomonas, dan Pseudomonas aeruginosa.
GEJALA KLINIS AKIBAT Paederus sp.
Kulit  yang  terkena  (biasanya  daerah  kulit yang terbuka) dalam waktu singkat akan terasa panas. Setelah 24-48 jam akan muncul gelembung pada kulit dengan  sekitar  berwarna  merah  (erythemato-bullous lession) yang menyerupai lesi akibat terkena air panas atau  luka  bakar.  Manifestasi  klinis  yang  terjadi sebagai berikut : 

TATALAKSANANA KASUS PADA PENDERITA AKIBAT Paederus sp.
  • Segera cuci dengan air mengalir dan sabun pada kulit  yang  bersentuhan  dengan  serangga tersebut.
  • Berikan  pengobatan  sebagaimana  penanganan pada  kasus  dermatitis  contact  irritant, contohnya pemberian  krim kortikosteroid. 
  • Apabila  sudah  timbul  lesi  seperti  luka  bakar, segera  kompres  kulit  dengan  cairan  antiseptik dingin. 
  • Apabila  lesi  sudah  pecah,  dapat  diberi  krim antibiotik dengan kombinasi steroid ringan.
  • Ingatkan  kepada  pasien  agar  jangan menggaruk luka. Taburi  luka  dengan bedak sehingga tidak terjadi infeksi sekunder. 
  • Beri  antihistamin  dan  analgesik  oral  untuk simptomatis

SEPULUH UPAYA YANG DAPAT DILAKUKAN OLEH MASYARAKAT
  1. Jika  menemukan  serangga  ini,  jangan  dipencet, agar racun tidak mengenai kulit. 
  2. Hindari terkena kumbang ini pada kulit terbuka.
  3. Bila  kumbang  di  kulit  kita,  singkirkan    hati-hati, meniup atau mengunakan kertas.
  4. Jangan  menggosok  kulit  dan  atau  mata  bila kumbang ini terkena kulit . 
  5. Segera  cuci  dengan  air  mengalir  dan  sabun  pada kulit yang bersentuhan dengan kumbang.
  6. Usahakan  pintu  tertutup  dan  bila  ada  jendela diberi  kasa  nyamuk  untuk  mencegah  kumbang ini masuk.
  7. Tidur menggunakan kelambu.
  8. Lampu  diberi  jaring  pelindung  untuk mencegah kumbang jatuh ke manusia. 
  9. Semprot dengan insektisida rumah tangga, harus dipastikan  terkena  langsung  pada  serangga sasaran.
  10. Bersihkan  lingkungan  rumah,  terutama  tanaman yang tidak terawat yang ada disekitar rumah yang bisa menjadi tempat kumbang Paederus.

UPAYA PENGENDALIAN POPULASI Paederus sp. di  PERMUKIMAN

  • Jika  populasi Paederus  sp. sedikit,  maka lakukan penyemprotan  langsung  pada target  serangga dengan insektisida rumah tangga.     
  • Jika  populasi  Paederus  sp.  padat  pada permukiman,  maka  lakukan  penyemprotan residual,  dengan  tetap  mengedepankan pemakaian insektisida nabati. 
Photo  Paederus sp. (sumber photo dari search di Google salah satunya dari : http://www.meloidae.com/en/albums/paederus-spp/ )


Penderita akibat Gigitan Paederus sp.



Download Leaflet Panduan Pencegahan dan Pengendalian Kumbang Paederus  sp. disini

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima Kasih sudah berkunjung

Dimanapun kita tinggal akhirnya akan kembali kepada keluarga inti