Selasa, 28 Agustus 2012

Situs Cangkuang di Kuningan

Situs Cangkuang berada di tengah permukiman Kampung Cangkuang, Kelurahan Kuningan Kabupaten Kuningan. Secara astronomis terletak pada koordinat 6º59’14” LS dan 108º28’52” BT. Lokasi ini relatif mudah dijangkau, karena masih tergolong di Kota  Kuningan. Untuk menuju lokasi situs selain kendaraan roda dua bisa juga menggunakan mobil pribadi atau mobil angkot yang menuju desa Citangtu (desa asalnya calung atau angklung) dan menggunakan delman (yang merupakan alat transpotasi tradisional)

Menurut Dinas Parawisata dan Budaya Jabar Situs Cangkuang merupakan peninggalan atau petilasan aktivitas manusia masa lampau yang terdapat di kampung ini merupakan peninggalan dari tradisi megalitik pada zaman prasejarah. Tinggalan-tinggalan tersebut secara umum relatif terawat dan utuh. Data yang ada cukup penting bagi ilmu pengetahuan dan objek kunjungan Tinggalan-tinggalan tersebut tersebar di tiga lokasi yang berbeda. Di lokasi pertama terdapat tinggalan-tinggalan berupa menhir batu datar dan tatanan batu. Lokasi ini terbesar dibanding kedua lokasi lainnya. Pada Bagian ini tinggalan-tinggalan tersebut telah diberipagar keliling. Sekitar 50 meter dari lokasi pertama terdapat batu lumpang yang terletak di halaman rumah warga.

Gambar diambil oleh Penulis
Batu Lumpang tersebut dipercaya mempunyai manfaat bila ada orang yang menginginkan keturunan dengan cara meminum air yang dimasukan pada hari Kamis dan meminumnya pada Hari Jumat. Di lokasi ketiga sekitar 50m dari batu lumpang terdapat batu lumpang dan batu alam lainnya yang sudah dipagari juga.
Lepas dari keterangan di atas sebelum situs tersebut dipagar terdapat beringin karena semakin tua dan rapuh akhirnya penduduk di sana menebangnya dan anehnya tebangan kayu dari pohon tersebut penduduk sekitar tidak ada yang mau menggunakannya.

Gambar diambil Oleh Penulis
Semasa Penulis kecil sering melihat nenek penulis menebar uang receh buat diperebutkan (maksud dan tujuannya penulis tidak pernah bertannya). Kalau dilihat sebagai obyek wisata mungkin kurang menarik hanyalah hamparan batu tetapi bagi para peneliti batu atau zaman prasejarah lain halnya. Penulis sebenarnya penasaran apa hubungan batu ini dengan sejarah Kabupaten Kuningan karena menurut cerita Orang tua Penulis bahwa kampung Cangkuang merupakan tempat istrirahat Adipati Ewangga dan juga sebagai kastil Kuda Kuningan. Di tambah dengan keterangan bahwa bapak buyut Kami sebagai pembuat benda pusaka atau empu pusaka dan dimana selain di batu itu untuk menempanya ?

Diambil Oleh Penulis
Keterangan dari sejarah Kabupaten Kuningan memang tidak diceritakan dengan jelas tentang kampung Cangkuang ini tetapi dari keterangan Wikipedia bahwa Adipati Kuningan berjuluk Adipati Cangkuang (karena tinggal di kampung cangkuang) yang mahir berperang dan mahir membuat sejata. Dan disebutkan pula asal Nama Kuningan di  DKI Jakarta ada kaitannya dengan kampung Cangkuang di Kuningan dan dilain sejarah bahwa Dipati Ewangga merupakan seorang tokoh yang berguru kepada Sunan Gunung Jati dari Cirebon dan merupakan daerah bawahan padjajaran, disebut juga Dipati Cangkuang. Berperan dalam penyebaran agama Islam di Kuningan.

Gaambar diambil dari sini
Jadi yang masih menjadi pertanyaan adalah kenapa ada nama "CANGKUANG" di Kuningan juga Candi Cangkuang di Garut, apakah ada kaitannya dengan penyebaran Islam yang dibawa oleh Dipati Ewangga atau hanyalah mitos semata? ini adalah Pekerjaan Rumah (PR) para sejarahwan di Jawa Barat terutama sejarahwan Kuningan walaupun disebutkan kampung Cangkuang ini termasuk salah satu situs yang terdapat di Kabupaten Kuningan yaitu sebagai situs sendiri dan situs megalitikum. Sehingga anak cucu yang berada dilokasi terkait semakin mencintai dan menghargai budayanya.

Anak bungsu Uyut SACAWINATA
Nek UHI dan Penulis



Bagi penulis sebagai keturunan ke 5 (lima) dari Kakek Buyut Ati yang biasa disebut (Uyutjangkung) dan anaknya Bapak Buyut SACAWINATA, merupakan kebanggaan tersendiri. Semoga amal ibadah dengan iman islam dari bapak buyut Kami mendapatkan tempat disisi Alloh SWT, amiin

Dalam kesempatan silaturahim penulis menyempatkan berkunjung ke adik Nenek Kami yang bungsu dan masih hidup, beliaulah yang menempati rumah buyut kami sebagai anak bungsu. Karena sudah lanjut usia untuk diminta keterangan secara detail sejarahnya situs tersebut penulis merasa tidak tega. Biarlah sejarah kehidupan keturunan Kami tinggal selamanya di tanah Cangkuang Kuningan dan Siapa tahu "ADA" anak cucu dan cicit,udek udek yang mau menggali lebih dalam " tabir misteri " Kakek bapak buyut Sacawinata atau Uyut Cangkuang. Semoga ....

Untuk tidak "PAREUMEUN OBOR" Mari kita tenggok dulu siapa sih Uyut SACAWINATA atau kami kenal dengan sebutan uyutjangkung. Yang Kami ketahui bahwa uyut Sacawinata dan Bapak Uyut Ati dari sumber yang kami telusuri pada tahun 1977 ( salah satunya dari Bapak Jalil - imam mushola di lingkungan kami), bahwa Bapak Sacawinata merupakan orangn yang 'berilmu' dan merupakan salah satu penasehat kerajaan kuningan dan juga merupakan pembuat senjata pusaka pada jamannya (bisa dibilang empu). Bisa dilihat dari peninggalan batu tilas tempat menempa senjata dekat rumah beliau di desa Cangkuang ( mungkin sekarang sudah hilang). Namun disekitarnya Bapak Sacawinata hanyalah seorang petani yang memiliki 9 orang anak. Untuk Silsilah ini akan kami tulis dalam artikel terpisah (siapa yang mau melengkapi ?)

Yang jadi pertanyaan dari penulis kenapa ada desa Cangkuang di wilayah Kuningan, padahal nama cangkuang merupakan candi yang ada di daerah Leles Garut, sampai ini penulis belum mendapat kesimpulan hubungan dari nama desa Cangkuang dengan candi Cangkuang di Garut Leles.

Tetapi arti cangkuang menurut wikipedia adalah : Kata 'Cangkuang' sendiri adalah nama tanaman sejenis pandan (pandanus furcatus), dan daun cangkuang dapat dimanfaatkan untuk membuat tudung, tikar atau pembungkus gula aren. Disetiap tempat di tatar sunda selalu ada tempat namanya cangkuang tetapi arti suatu nama tentunya dibuat oleh para leluhur tentunya berdasarkan geografis tempat itu sendiri.

Memang asik kalau menelusuri sebuah nama apalagi menyangkut silsilah turunan  walau kadang kebenarnya sulit di buktikan coba baca link ini tentang adipati cangkuang ini, penulis yakin bahwa memang bapak buyut ati orang tuannya uyut sacawinta memang pembuat senjata perang dan pusaka pada masanya, walau tidak diturunkan pada anaknya dan turunannya sampai sekarang tetapi tentang budi pekerti dan menjalani laku lampah sebagai seorang muslim tetap kami jalani.

3 komentar:

  1. makasih gan infonya,di kuningan baru tau klo ada tempat ini...

    BalasHapus
  2. Blog nya bagus pak nana. Tapi sayang belum mobile friendly

    BalasHapus
    Balasan
    1. sudah saya rubah dalam tampilan selular sehingga bisa di buka, semoga bisa membantu

      Hapus

Terima Kasih sudah berkunjung

Dimanapun kita tinggal akhirnya akan kembali kepada keluarga inti